Jumat, 24 Mei 2013

LEGENDA GOSONG RANGAN MIHING di desa TUMBANG DANAU,Kec.MIHING RAYA, Kab.GUNUNG MAS




Diceritakan kembali Oleh : Yendra berdasarkan cerita tetua Kampung di Desa Tumbang Danau.dan berbagai sumber lainya.
           
            Mihing merupakan salah satu benda budaya tradisonal masyarakat Kabupaten Gunung Mas yang hampir punah, yang mana menurut Kitab Panuturan Suku Dayak Ngaju ( KitabSuci Hindu Kaharigan ) Kata Mihing Bersal dari Bahasa Sangiang atau Bahasa Sangen.
            Mihing berati semacam alat menangkap ikan yang mengandung daya mistik untuk mernarik perhatian ikan-ikan, sehingga ikan-ikan tersebut bedatanangan dan masuk kedalam Mihing  tersebut.
            Dan masih menurut kepercayan masyarakat Dayak Ngaju, Mihing juga merupakan pembawa rejeki, baik di dunia fhana dan alam baka.
             Ada juga yang mengenal Mihing dengan sebutan Mihing Manasa, yang mana kata Manasa berati: Memasuki. Dengan demikan dapat disimpulkan bahwa Mihing Manasa Berati : Sebuah alat Perangkap untuk masuknya ikan atau sering dikatakan bahwa, Mihing merupakan benda yang berisi penuh ( panen ) dengan ikan.
Adapun asal mula adanya Mihing dalam kidupan Suku Dayak Ngaju khusus di sungai Kahayan, sagat erat kaitannya dengan lengenda Cerita Rangan Mihing yang merujuk kepada seorang Kesatria Dayak yang bernama Bowak dari desa Tumbag Danau yang meurpakan wilayah kecamatan Mihing Raya, setalah pemekaran dari wilayah kecamatan Sepang, Kabupaten Gunung Mas.
            Konon Bowak Merupakan  seorang laki-laki yang sejak kecilnya hidup dengan salah satu keluarga kaya.dimana pekerjaanya sehari - hari adalah memelihara babi dari keluarga kaya tersebut. Dan Bowak merupakan pekerja yang rajin dan tekun, yang mana pada suatu waktu juga lelah dan jenuh pada pekerjaanya.
            Dalam kejenuhanya sambil mengiris batang keladi untuk makanan babinya  tersebut dia sering bersenadung dalam bahasa sangiang atau  disebut mangarungut atau mandak, ucapan yang dikeluarkan Bowak waktu itu : “ Narai kajarian kea gawi kalutuh, nasang tingang dia bahelat andau, maraga kalawet isen sankelang pandang kalaman”.artinya: kapan berakhir pekerjan ini, setiap hari memotong daginng burung tingang,dan mencincang daging monyet (owa-owa). Padahal sebenarnya yang dipotong dan dicincang  oleh Boak hanya batang dan daun keladi untuk makana babi tuanya.  
      Perkatannya inilah  yang terdengar oleh Sangiang (Dewa Langit) di lewu Telo Kalabuan Tingang Rundung Epat Kalehulun Talawang, sehingga kedengaranya begitu gagah dan berani. Membuat Raja Sangiang tertarik untuk mengutus pesuruhnya Sahawung Untuk menjemput Bowak ke lewu Telo( Negeri Para Sangiang/Kayangan) untuk menguji kegagahannya.
      Singkat cerita Bowak pun dibawa ke Lewu Telo dan diperlakukan seperti Raja dan diminta untuk tinggal beberapa lama di sana.
 Sehingga sampailah saat pengujian kegagahan Bowak. Pada suatu hari dia dijak oleh warga Lewu Telo (dunia Sangiang/kayangan) untuk berburu burung Tingang mengunakan Sipet/Sumpitan, yang ternyata hanya burung Endu/Punai saja menurut kita bangsa manusia, tetapi menurut bangsa Sangiang adalahTingang. Dan dengan mudah Bowak menangkap begitu banyak burung tersebut  karena dia sudah terbiasa berburunya di tempat asalnya di dunia manusia ( Pantai Danum Kalunen ).
      Keesokan harinya dia kembali diuji dan diajak  menangkap ikan Tambun dengan Sahipang/Tombak. Dan alangkah terkejutnya dia ternyata ikan Tambun yang di kiranya begitu besar hanyalah ikan Pentet (Lele) saja di tempat asal Bowak. Sehingga Dengan mudah Bowak menangkap beratus-ratus ikan Tambun dengan hanya mengunakan tangan tampa harus memakai Sahipang/Tombak yang membuat Sahawung menyuruhnya berhenti menangkap karena takut ikan tersebut akan habis dan musnah dari Lewu Telo.
      Apa yang di lakuan Bowak di lewu Telo membuatnya begitu terkenal dan disegani sehingga pada saat ada rencana pembuta Mihing di Lewu Telo dia tidak dilibatkan karena takut Boak akan mencuri ilmunya dan nantinya  akan dibawa lagi ke Lewu Pantai Kalunen/ Dunia untuk di peraktekan.
      Dan adapun cara Sahawung  agar  Bowak tidak melihat cara dan bahan pembuat Mihing tersebut ialah menempatkan Bowak di sebuah tempat yang disebut Balai Sambah gandang Garantung Manah (balai tempat Penyimpanan Musik Gandang Garantung), disitulah Bowak selama satu hari di tempatkan agar tidak bisa melihat pekerjaan Sahawung dan penghuni Lewu Telo, tetapi dia masih bisa melihat pekerjaan mereka. Dan  besoknya dia di pindahkan lagi ke Balai Jala Bulau Nihing Langit, atau Balai Jala Bulau Andung Nyahu dan dia berarda disitu bersama Raja Singuh Batu, Tuhan Jenjan Liang ( Balai milik Patahu), tetapi Bowak tetap saja bisa melihat pekerjan Sahawung dan Penduduk Lewu Telo. Dan begitu terkejutnya Bowak ketika melihat begitu banyak harta kekayaan seperti balangga, gong, emas, intan dan sebagainya masuk kedalam Mihing tersebut padalah masih belum jadi dibuat. Maka mengertilah dia guna dari Mihing tersebut dan mengapa orang di Lewu Telo melarang dia melihat  pembuatan dan bahan-bahanya.
      Setelah kurang lebih dari 3 bulan di Lewu Telo akhirnya Bowak kembali diturunkan ke Pantai danum kalunen dimana dia berasal. Sesampainya di kampung Bowak kembali mengingat cara dan bahan membuat Mihing tersebut. Pada suatu hari dia pergi kehutan untuk mencari bahan membuat Mihing, dan adapun bahan-bahanya adalah:
1.      Kayu : Kaja, Tabulus, tawe, banuang, gahung, sangkalemu, kajunjung, Kanaruhung, balawan, sungkup, dan, manggis.
2.      Bambu :   Puring Humbang, Haur, dan Palingkau
3.      Rotan   :   Rotan (uei Bajungan, sigi, dan irit )
4.      Tanaman merambat/bajakah  : Tengang, dan bajakan Tatau.
5.      Batu     :   Batu Gandang, dan Batu Garatung.
      Singkat cerita Mihing tersebut pun hampir selesai dibuat oleh Bowak, tiba-tiba Mihing tersebut bergoyang karena dimasuki barang-barang berharga, seperti : gong, balanga, emas, intan,dan lain-lain. Karena Mihing tersebut hanya di bangun di depan rumah Bowak. Maka membuat orang-orang disekitarnya takjub dan heran dan membuat Bowak menjadi begitu kaya raya mendadak dan Bowak pun menyuruh orang-orang disekitarnya mengambil sebagian harata benda yang didapat dari dalam Mihingnya.
      Sebaliknya di Lewu Telo Pantai Sangiang  orang-orang disana di resahkan dengan hilangnya harata benda mereka. Satu persatu harta berda mereka berlompatan keluar dan tidak dapat ditahan-tahan bahkan bila di ikat pun tidak bisa, sebab ikatanya akan putus, begitu pula yang disimpan di dalam peti pun habis keluar dan hilang.
      Untuk mengetahui penyebabanya itu maka Sahawung lalu turun ke Pantai Danum Kalunen untuk melihat apakah kejadian seperti itu karena ulah Bowak, ternyata benar. Sahawung melihat Bowak dan orang-orang kapungnya sibuk memungut harta benda mereka dari dalam mihing yang di bangun diatas tanah di depan rumahnya.
       Sahawung lalu memanggil Bowak dan mengatakan sudah cukp harta yang didapat Bowak dan orang kampungnya dari mihing tersebut. Karena hanya akan membuat mereka malas untuk bekerja, sesuai kodrat kita manusia yang harus bekerja keras untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Dan pada saat itu juga Mihing tersebut di pindahkan Sahawung kesebuah gosong kerikil tepatnya dipingiran sungai Kahayan yang di beri nama Rangan Mihing.
       Maka sejak itu orang-orang di Pantai Danum Kalunen tidak diperbolehkan lagi membuat mihing di atas daratan kecuali di bangun di sungai, dan hanya boleh di masuki ikan baik besar maupun kecil. Dan Bowak menyadari bahwa kehidupan di Pantai Kalunen tidak abadi dan harta benda pasti kita tinggalkan juga, hanya di kehidupan alam Sangiang-lah (Sorga) yang abadi.
      Maka sejak itu Mihing hanya dibagun di sungai Kahayan, dengan batasnya adalah dari hilir sungai Kahayan tepatnya dari desa Tangkahen, Kecamatan Banama Tingang,  Kabupaten Pulang Pisau dan mudik kehulu Kahayan sampai dengan desa Rangan Mihing,Kecamatan Tewah Kabupaten Gunung Mas. Ini diperkuat dengan sejarah dan cerita dari masyarakat setempat. Hal ini  juga  di perkuat  dengan fakta dan kaenahan pada habitat ikan Sadarin (sejenis ikan patin) dimana hanya bisa ditemukan di wilayah aliran sungai Kahayan yang pernah dibangun Mihingnya saja, yaitu Ikan ini hanya bisa di temukan di antara  aliran sungai kahayan paling hilir di wilayah desa Tangkahen dan sekitarnya, sampai dengan di daerah desa Rangan Mihing dan sekitarnya untuk wilayah paling hulu.Akan tetepi belum ada cerita yang kuat yang bisa mengungkapkan mitos hubungan antara habitat Ikan Sadarin dan Mihing. Adapun mihing terakhir di bangun di sungai Kahayan adalah di desa Petak Bahandang Pada tahun 1977, setelah itu tidak pernah dibuat lagi sampai sekarang.
       Adapun tempat pertama di bangunya  mihing yakni di kampung Bowak sendiri, yaitu desa Tumbang Danau. Dan apabila kita mudik sungai Kahayan, kampung tersebut terletak disisi kiri arah hilir, namun beberapa puluh tahun silam kampung tersebut sudah berpindah ke sebalah kanan. Dan desa ini dikenal dengan panggilan Lewu Pandih Rundung Bayang  Hadean( bahasa Sangiang) Sekarang tempatnya sangat angker Karena sudah berubah menjadi Pahewan (Hutan Keramat). Kini tempat tersebut juga tinggal bekasnya saja, yang di tandai dengan pepohonan kelapa, durian ,langsat, dan pohon buah-buahan lainya yang diperkirakan umurnya mencapai ± 500 tahun.
      Menurut Tetua Adat di kampung tersebut, masih terdapat sisa-sisa  kayu bahan peninggalan Mihing yang dibangun Bowak yaitu berupa kayu Tunggal pahera, Kayu Banuang . Kayu tersebut meski sudah pernah ditebang tapi berkembang dan hidup lagi.  
   


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar